Ceritera secangkir kopi (Prolog)
I pagi ini... tidak seperti pagi-pagi sebelumnya mentari tetap naik di ufuk timur silir fajar nyaman mengelus sekujur tubuh secangkir kopi o panas terasa sedap lebih nikmat dari semalam sambil menatap sekalian unggas berkicau canda, merebut cebisan biskut di laman indahnya pagi ini II sungguh mudah dibuai alpa syukur menjadi langka mengejar yang bukan milik kita dosa dan pahala tiada kira III sesekali diuji Kau kirim peringatan rapuhnya dahan kehidupan agar kembali berserah jiwa subur cinta yang pernah ada IV pagi ini... aku lupa nikmat secawan kopi panas meruap berkepul membasahi wajah semalam aroma biji kopi segar menusuk menghangat jiwa yang letih membuka jendela pengertian akan kehidupan sekadar sedetik setitis air di dalam selautan memori V kini... dalam fikir yang kosong ku temui ketenangan di fajar yang menyingsing di sela kicauan beburung ku teringat kembali nikmat hangat aroma secangkir kopi Ibn Abdullah Beranang 8 Jun 2024