Awan Jingga

 


Di usia ini

helaian memori kian berguguran

dimamah arus waktu

lurus mengalir tetap menuju

tiada peduli 

meninggalkan reranting ingatan

ketika detik dan waktu tiada makna

anak-anak kecil berlari kejar-kejaran

ketawa dan menangis

dan bermain lagi

asyik


Senja ini

tika burung-burung mulai berlagu rindu

meredam mengusik di kaki langit

dibuai silir mimpi semalam

membisik menabur bebunga di laman hati

menusuk aroma ratu malam

menyingkap kisah 

seorang guru mendidik anak

seorang doktor merawat pesakit

seorang raja memayungi rakyat

mengamit satu rasa 

tiada berbeda 


Ketika 

tiada lagi pangkat, harta dan kuasa

tiada lagi gelar yang dibanggakan dulu

yang tinggal hanya

seorang yang bernama

ibu dan ayah

disantun sepertinya

tangan-tangan yang suatu ketika dulu

pernah membelai memimpin penuh kasih


Meniti usia 

pohon dan dahannya kian rapuh

terkurung di daerah paling sunyi

di dalam kepompong diri

walau pandang matanya kosong

roman mukanya kaku

rohnya tetap hidup 

menghidupkan rasa cinta kasih

seorang anak kepada orang tuanya

seorang cucu kepada atuk neneknya

menganyam sanubari melebur 

sempadan generasi



Senja ini

keriput dan kedut  semalam

menantang onak dan ranjau

terlukis di sebalik awan jingga

terukir di raut wajah 

satu pengharapan

tersemat di dalam perdu hati

hasrat ingin berbicara

namun mulut tak mampu melarik kata

sepi memandang seribu bahasa

terpenjara di dalam jasad 

menghitung hari

kapan

melabuh sauh

ke tanah asalnya


Hela dingin berbaki 

yang kian meredup ini

tika lembayung senja mengintai malam

kedidi terbang mengutip yang tersisa

terpateri di nuansa jiwa 

hanyalah kenangan 

seorang insan

yang pernah menabur bakti kasih

yang pernah memijak 

meninggalkan jejak

di bumi milikNya.





Dr Muhammad Ridha

Semenyih Parklands

29 September 2021


* khas buat Bonda yang dikasihi dan semua pesakit serta para penjaga pesakit dementia, suatu penyakit yang mencuri akal fikir namun bukan jiwanya.




Comments

Popular posts from this blog

Lapar menjadi Bahasa, Haus menjadi Doa

Picagari

Barah